raSains.com - Nobel Perdamaian adalah salah satu penghargaan paling
prestisius di dunia. Meraihnya adalah salah satu pencapaian tersendiri.
Mengingat tidak sembarang orang bisa mendapatkan hadiah Nobel.
Hanya orang yang benar-benar telah memberikan sumbangan besar kepada persaudaraan umat manusia dan perdamaian dunia yang berhak dianugerahi penghargaan ini.
Namun apa jadinya jika ada peraih Nobel Perdamaian
yang menolak penghargaan tersebut? Terlebih, dia adalah orang yang pertama dan
satu-satunya yang melakukannya. Setidaknya sampai hari ini.
Le Duc Tho sang pejuang
kemerdekaan Vietnam
Kamu pasti tidak pernah mendengar namanya. Ia memang kurang
dikenal di Indonesia, namun di Vietnam, Tho sangat terkenal. Nama
aslinya adalah Phan Dinh Khai, namun ia lebih sering dipanggil dengan nama samarannya, Le Duc Tho.
Sosok Tho dikenal sebagai seorang revolusioner, jenderal,
diplomat, sekaligus politikus ulung asal. Karirnya dimulai sejak tahun
1930, ketika ia ikut mendanai Partai Komunis Indocina, yang nantinya bergabung
dengan Partai Komunis Annam menjadi Partai Komunis Vietnam.
![]() |
| Ledakan bom napalm di Perang Vietnam tahun 1966| Credit: manhhai |
Setelah itu, ia terus melakukan agitasi kepada rakyat
Vietnam. Mengobarkan semangat perlawanan kepada pemerintah kolonial Perancis. Aktivitasnya
yang berbahaya membuat Tho berulang kali dijebloskan ke penjara.
Hukuman kurungan yang pertama dimulai dari tahun 1930 hingga
1936. Tiga tahun kemudian, ia kembali dijebloskan ke kursi pesakitan selama lima
tahun. Namun hukuman ini tidak meredakan semangatnya sedikitpun.
Begitu ia bebas untuk yang kedua kalinya, Tho langsung
bergabung dengan Viet Minh (Liga Kemerdekaan Vietnam), sebuah gerakan
pembebasan Vietnam dari cengkeraman Perancis. Ia terus berjuang hingga
ditandatanganinya Perjanjian Jenewa tahun 1954.
Perjanjian ini membagi Vietnam menjadi dua wilayah, yaitu
Utara yang diatur Viet Minh, dan Selatan yang dipimpin mantan kaisar Bao Dai.
Kedua wilayah ini nantinya akan bersatu setelah digelarnya pemilihan umum di
tahun 1956.
Setelah itu, ia pindah ke Vietnam Utara dan bergabung
menjadi anggota eksekutif Partai Buruh pada 1955. Setahun kemudian, Tho memimpin
pemberontakan komunis untuk mengambil alih Vietnam Selatan. Para pemberontak
ini dikenal dengan nama Viet Cong.
Inilah awal mula terjadinya Perang Vietnam. Di mana akhirnya
Amerika Serikat terpaksa ikut campur membantu pemerintah Vietnam Selatan. Pertempuran
ini berlangsung selama lebih dari satu dekade. Sejumlah perundingan damai
berulang kali digagas, namun selalu kandas.
Pada tahun 1970, Tho dan Dr. Henry Kissinger, Penasehat
Keamanan Nasional Amerika Serikat, terlibat dalam sejumlah pembicaraan rahasia
yang menghasilkan Persetujuan Damai Paris pada 27 Januari 1973. Isinya meliputi
gencatan senjata, pembebasan tahanan, hingga rencana penyelenggaraan pemilu.
Atas prestasi Tho dan Kissinger, mereka diganjar hadiah
Nobel Perdamaian pada tahun 1973. Tapi Tho secara mengejutkan menolak dengan hadiah
perdamaian dunia tersebut.
Nobel Perdamaian yang penuh kontroversi
![]() |
| Credit: manhhai |
Sejak awal pemberian penghargaan ini sudah menuai kritik
dari banyak kalangan. Karena mereka dianggap tidak layak dijadikan tokoh perdamaian
dunia. Pasalnya Perang Vietnam kembali berkecamuk, setahun setelah pengumuman
nominasi tersebut. Bahkan mereka berdua disebut-sebut sebagai dalang peperangan.
Terlepas dari kontroversinya, Gedung Putih menyambut pengumuman
penghargaan tersebut dengan bangga. Bahkan Presiden Nixon menyebutnya sebagai
sebuah bentuk pengakuan atas seni negosiasi dalam mengakhiri perang sekaligus
peletak dasar perdamaian, seperti dikutip dari Time.
Namun respon yang berbeda datang dari Hanoi. Pihak Vietnam, tidak
memberikan komentar apapun mengenai masalah ini. Mereka lebih memilih
membiarkan desas-desus Tho yang akan menolak Nobel Perdamaian.
Kenyataannya isu tersebut benar. Tho menolak penghargaan tersebut.
Alasannya karena Vietnam belum benar-benar damai, tidak seperti yang dikatakan
Komite Nobel. Ia mengatakan bisa saja sikapnya berubah di masa depan, namun
untuk saat ini ia dengan tegas menolak.
Pada akhirnya, negaranya kembali damai. Setelah Seigon Jatuh
ke tangan Vietnam Utara di tahun 1975. Kemenangan ini membuat kedua Vietnam
bergabung kembali menjadi satu: Republik Sosialis Vietnam.
Sayangnya Tho tetap
bergeming dengan pendiriannya, meski kedamaian telah kembali ke tanah airnya. Bahkan sampai ia meninggal pada 13 Oktober 1990 karena kanker , Tho tetap tidak mengambil hadiah Nobel Perdamaian tersebut.
Orang-orang yang menolak Nobel
![]() |
| Credit: Canadian Science and Technology Museum |
Penolakan hadiah Nobel yang dilakukan Tho bukanlah kali
pertama. Sejarah mencatat, setidaknya sudah ada sejumlah orang yang pernah melakukannya. Alasannya
beragam, mulai dari pribadi hingga dilarang pemerintah.
Misalnya saja Jean Paul Sartre yang menolak Nobel Sastra karena
alasan pribadi, yaitu sejak awal ia memang tidak mau menerima penghargaan resmi
apapun.
Sedangkan alasan yang kedua, dilarang oleh negara, dialami
oleh Boris Pasternak, penerima Hadiah
Nobel Sastra asal Uni Soviet. Selain itu, masih ada juga Richard Kuhn,
Adolf Butenandt, dan Gerhard Domagk yang dipaksa menolak di bawah tekanan
Jerman yang dipimpin Hitler.
Namun hanya Le Duc Tho yang pernah menolak penghargaan Nobel dalam
kategori perdamaian. Sampai saat ini, ia menjadi satu-satunya orang sekaligus
yang pertama menolak hadiah perdamaian dunia tersebut.
Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar sosial dan politik, ragam, atau artikel lain dari raSains.
Sumber gambar sampul: manhhai




EmoticonEmoticon