raSains.com - Siapa karakter favorit kamu di Game of Thrones? Tyrion
Lannister, Jon Snow, atau Arya Stark? Tiap karakter memang memiliki daya tarik
masing-masing. Perkembangan mental mereka terlihat sangat alami dari satu musim
ke musim yang lain.
Namun pernahkah kamu membayangkan, apa jadinya jika para
karakter 'fiksi' Game of Thrones bertandang ke psikolog dan psikiatri? Kira-kira apa
yang akan ahli kejiwaan katakan mengenai kondisi kejiwaan mereka? Awas penuh spoiler!
1. Ramsay Bolton
Diagnosis: Sadistic Personality Disorder dan Sexual
Sadism Disorder
Ramsay merupakan tokoh paling sadis di Game of Thrones. Kekejamannya bahkan melebihi Joffrey Baratheon.
Bayangkan, ia tega membunuh ayahnya, dan mengumpankan ibu tiri beserta saudara
tirinya yang masih bayi kepada anjing-anjing pelihara annya..
Tidak cuma itu, ia juga senang berburu manusia dan menguliti
musuh-musuhnya. Menurut Dr Honda Kirk, kesenangan yang didapatkan Ramsay dari
menyiksa orang lain adalah gejala dari sadistic personality disorder.
“Mendapatkan
kenikmatan dengan menyiksa orang lain,” tuturnya.
Selain itu, Ramsay juga memiliki sexual sadism disorder, gairah seksual yang muncul sebagai respon
rasa sakit atau penghinaan terhadap orang lain. Lihat saja bagaimana cara
Ramsay menghabiskan malam pertamanya dengan Sansa Stark.
Lalu kenapa kesehatan mental Ramsay bisa bermasalah seperti
ini? Jawaban menarik dikemukakan oleh Janina Scarlet, PhD, profesor di California School of Professional Psychology,
yang dimuat di blog Alliant International University.
Menurutnya gangguan kejiwaan Ramsay diakibatkan trauma
mendalam karena terlahir sebagai anak haram. Ditambah lagi ayahnya tidak
benar-benar mencintai dirinya.
“(Ini membuat) Keterikatan emosional menjadi sesuatu yang
benar-benar asing baginya,” kata Dr Scarlet.
2. Theon Greyjoy
Diagnosis: Narcissistic Personality Disorder, Dissociative
Disorder, dan Stockholm Syndrome
Theon sejak kecil ditawan oleh House Stark, setelah pemberontakan
ayahnya, Balon Greyjoy, berhasil dipadamkan. Ia tumbuh besar bersama anak-anak
Stark, namun bukan bagian dari mereka. Inilah yang menyebabkan Theon berhasrat
untuk membuktikan kemampuannya.
Setelah mengkhianati Stark, ia ditangkap Ramsay Bolton.
Disiksa habis-habisan dan dikebiri. Peristiwa ini meninggalkan trauma yang
mendalam dalam dirinya. Akibatnya jati dirinya sebagai Theon ‘hilang’, dan
digantikan identitas baru bernama Reek.
Latar belakang ini membuat kondisi kejiwaan Theon sangat
unik. Sejak awal cerita, calon penguasa Iron
Island ini telah mengidap gangguan narcissistic personality disorder. Ia memandang dirinya begitu istimewa, melampaui
orang-orang di sekitarnya.
Tidak ada kata lemah dan payah di dalam kamusnya. Selalu
ingin terlihat superior. Itulah kenapa ia mengeksekusi Ser Rodrick Cassel di
depan anak buahnya. Agar mereka mau mengakui kepemimpinannya.
Namun di tengah jalan, kepribadian narsistik itu pudar.
Identitasnya berubah menjadi Reek, kacung Ramsay yang penurut. Perubahan
identitas ini adalah gejala dari dissociative disorder (dikenal juga sebagai multiple
personality disorder).
Dissociative disorder adalah
kelainan mental yang ditandai kepemilikan sejumlah kepribadian. Masing-masing
kepribadian memiliki memiliki ingatan, pola pikir, dan perilaku yang berbeda.
Penyebabnya adalah trauma ekstrim yang terjadi berulang kali. Dalam kasus Theon
yaitu pengebirian yang dilakukan Ramsay.
Uniknya, Reek juga mengalami stockholm syndrome. Sindrom ini membuat
seorang sandera memiliki ikatan emosional dengan penculiknya. Semacam loyalitas
penuh (dalam beberapa kasus berbentuk 'cinta') tanpa menghiraukan resiko dan bahaya yang akan dihadapinya.
3. Joffrey Baratheon
Diagnosis: Antisocial Personality Disorder
Kamu pasti salah satu dari sekian juta pembenci Joffrey. Raja
muda Seven Kingdom ini memang tokoh yang paling dibenci di Game of Thrones. Tidak heran jika kematiannya di musim ke empat
disambut meriah oleh penonton.
Penyebabnya adalah watak Joffrey yang kejam dan arogan. Ia
sangat suka menyiksa orang lain. Misalnya saja dengan mempertontonkan kepala Eddard 'Ned' Stark yang terpancung kepada Sansa. Sembari berbisik jika kakaknya bakal
mengalami nasib yang sama.
Ia juga gemar menyiksa Tyrion, pamannya yang cebol, setelah
dirinya naik tahta. Salah satunya dengan mengadakan pertunjukan orang-orang
cebol saat digelarnya resepsi pernikahan Joffrey dengan Margaery Tyrell.
Lalu bagaimana diagnosis kejiwaan tokoh ini?
Menurut Dr. Kirk Honda, Joffrey mengidap gangguan jiwa antisocial personality disorder, kecenderungan
seseorang menyiksa siapa saja di sekitarnya tanpa ada rasa penyesalan.
Hanya diagnosis ini belum berlaku, mengingat umurnya kurang
dari delapan belas tahun. Karena itu Joffrey hanya ‘ditandai’ conduct disorder. Label ini adalah
‘bendera merah’ yang disematkan kepada anak-anak dengan masalah emosi dan
penyimpangan perilaku yang serius.
Dr. Honda juga menambahkan, jika kelainan mental Joffrey
tidak bisa dilepaskan dari perangai buruk ayahnya, serta trauma akibat konflik kedua
orang tuanya. Trauma ini makin kuat berkat bisikan ibunya yang selalu
mengatakan dirinya lebih hebat dibanding orang lain.
4. Cersei Lannister
Diagnosis: Narcissistic Personality Disorder dan Antisocial Personality Disorder
Cersei adalah istri Raja Robert Baratheon. Sayang,
pernikahan mereka tidak semulus orang kira. Robert kerap bermain dengan
pelacur, sementara Cersei menjalin hubungan terlarang dengan kakak kembarnya,
Jeime Lannister.
Dari hubungan gelap ini Cersei dikaruniai tiga orang anak,
yakni Joffrey, Myrcella, dan Tommen. Sekilas ia terlihat begitu mencintai Jeimi
dan anak-anaknya, namun dalam kenyataannya tidaklah demikian.
Cersei tidak benar-benar mencintai mereka, melainkan dirinya
sendiri. Kembarannya merupakan representasi dari sosok yang menyerupai dirinya.
Sebuah cinta yang sempurna dari seorang narsisitik.
Itu sebabnya Cersei tidak berduka dengan kematian Tommen.
Karena di pikirannya hanya ada dirinya dan orang lain. Antara Cersei dan bukan
Cersei. Ketika Tommen memilih Margery dan High Sparrow, maka ia bukan lagi
bagian dari Cersei.
Di sisi lain, Cersei memiliki hasrat yang luar biasa akan
kekuasaan, kesuksesan dan kejayaan. Ia tidak akan mempermasalahkan latar
belakang siapapun, asalkan mereka bisa membantunya meraih kekuasaan.
Ia berwatak kejam, penuh manipulasi, dan menghalalkan semua
cara untuk mencapai tujuannya. Tanda-tanda dari kecenderungan anti social personality disorder.
Menurut Dr. Honda, gangguan yang dialami Cersei sedikit
berbeda dengan Ramsay dan Joffrey. “Ia dikelilingi oleh kekuasaan, keadaan
inilah yang menimbulkan sifat psikopat dalam diri Cersei, bukan karena
pribadinya,” ungkapnya.
Usaha mendapatkan kekuasaannya dipandang sebagai sebuah
tindakan untuk melindungi diri di tengah masyarakat patriarki. “Sebuah usaha
untuk bertahan hidup dari perspektifnya,” ujar Dr. Honda.
5. Sandor Clegane alias The Hound
Diagnosis: Post-Traumatic
Stress Disorder dan Alcohol Use
Disorder
Mantan pengawal pribadi Joffrey ini adalah petarung yang
handal. Ia berhasil selamat melewati berbagai pertarungan dan peperangan. Meski
akhirnya harus menelan pil pahit, kalah oleh Brienne Tart.
The Hound memiliki
masa lalu yang suram. Bekas luka bakar di wajahnya adalah buktinya. Bagaimana
ia mengalami kekerasan dari kakaknya, The
Mountain. Sementara itu ayahnya tidak menunjukan reaksi simpati atas
kejadian mengerikan tersebut. Clegane yang malang.
Peristiwa buruk ini memicu gangguan emosional ekstrim setiap
kali Clegane berhadapan dengan api. Sebuah gejala dari post-traumatic stress disorder, gangguan kecemasan parah yang
diakibatkan peristiwa psikologis..
“Ketika Clegane menghadapi api, ia selalu menunjukan gejala
PTSD,” kata Dr. Honda dalam podcast
Selain itu, Clegane juga didiagnosis mengidap alcohol use disorder. Baginya, minum alkohol
adalah bentuk pelarian dari masalah serta sarana menenangkan emosi. Kecanduan
alkohol memang lumrah ditemui pada pasien post
traumatic stress disorder.
6. Tyrion Lannister
Diagnosis: Substance Abuse Disorder
Tyrion adalah salah satu orang paling berbahaya di Westeros.
Ia seorang politisi ulung. Kekurangan fisiknya berhasil ditutupi dengan
kecerdikannya. Pantas sekiranya Tyrion didapuk sebagai tangan kanan Daenerys.
Kemampuannya memegang kekuasaan juga diakui oleh ayahnya,
Tywin Lannister. Itulah sebabnya ia dipercaya mengurusi ibukota sebagai Hand of The King. Sayangnya Tywin masih memandang rendah Tryrion karena terlahir
cacat.
Orang-orang di sekitarnya juga kerap melecehkan Tyrion
dengan menjulukinya ‘The Imp’.
Hidupnya yang keras membuat Tyrion memiliki masalah substance use disorder, kelainan penggunaan ‘substansi’ tertentu yang
mengarah pada gangguan klinis. Dalam hal ini yaitu alkohol dan wanita.
“Dia mengonsumsi alkohol untuk mengubah suasana hatinya yang
tengah dirundung masalah, termasuk dengan bermain wanita,” kata Jordan,
konselor kesehatan Mental, dikutip dari MTV.
7. Jon Snow
Diagnosis: Seasonal Affective Disorder
Jon Snow adalah putra Lyana Stark yang identitasnya disamarkan Ned
Stark sebagai anak haramnya. Ia diperlakukan dengan baik oleh ayah palsunya,
namun tidak disukai oleh Catelyn Stark, istri Ned.
Karena merasa sebagai ‘orang luar’, Jon memutuskan ikut pamannya bergabung menjadi anggota Night Watch.
Karena merasa sebagai ‘orang luar’, Jon memutuskan ikut pamannya bergabung menjadi anggota Night Watch.
Kesehatan mental Jon tidak separah tokoh lainnya. Ia hanya
memiliki gangguan mental ringan seasonal affective disorder, gangguan kejiwaaan yang selalu muncul di waktu yang sama
setiap tahun. Biasanya ditandai depresi, putus asa, dan merasa cemas.
“Lihat wajahnya, itu adalah gejala depresi,” tutur Jordan. “Mungkin
terjadi secara musiman.”
Menurut Jordan, Jon telah mengalami banyak kehilangan.
Ditambah lagi ia tinggal jauh dari rumah, di Utara yang dingin. Lebih dari
cukup untuk memicu depresi ringan.
8. Arya Stark
Diagnosis: Post-Traumatic Stress Disorder
Arya adalah anak ketiga dari pasangan Eddard Stark dan
Catelyn Stark. Ia tumbuh sebagai gadis tomboy yang periang. Lebih suka belajar
bertarung dibanding menyulam dan menari.
Sayang, kehidupannya tidak berjalan mulus. Ia harus
menyaksikan orang-orang berharga di sekitarnya tewas terbunuh. Orang yang
pertama adalah ayahnya yang dieksekusi Joffrey. Disusul teman-temannya. Semua
itu dia alami mulai dari umur sebelas tahun!
Pengalaman-pengalaman ini jelas meninggalkan trauma mendalam
dalam diri Arya. Tandanya yaitu kesulitan tidur, jika ia belum menyelesaikan ‘daftar
kematian’. Sekilas, perilaku ini terlihat seperti gejala obsessive-compulsive disorder, namun menurut Jordan tidaklah
demikian.
“Ini hanyalah rutinitas sebelum tidur,” kata Jordan. “Sama
seperti kebiasaan orang Barat mendengarkan dongeng sebelum pergi ke ranjang.”
Dalam kasus Arya, rutinitas ‘daftar kematian’ adalah bagian
dari dari post-traumatic stress disorder.
Sebuah mode bertahan hidup setelah mengalami berbagai pengalaman mengerikan.
Relasinya dengan The
Hound adalah ikatan yang unik. Sebuah mekanisme pertahanan diri yang saling
menguntungkan. Sebuah cara melindungi diri mereka dari pemicu trauma. Saat
bersama Clegane, otak Arya akan mengganti mode bertahan hidupnya. Membuatnya
menjadi lebih lunak.
9. Petyr ‘Littlefinger’ Baelish
Diagnosis: Antisocial Personality Disorder
Cerdas, kalem karimatik. Itulah gambaran dari mantan Master of Coin dan pemilik rumah bordil
terkemuka di ibukota Seven Kingdom. Namun siapa sangka jika dialah pemicu perang
antara Stark dengan Lannister?
Tingkat kecerdasannya dapat disandingkan dengan Tyrion.
Menjadikan dirinya sebagai salah satu orang paling berbahaya di Westeros.
Apalagi tidak ada yang tahu tujuan aslinya. Satu hal yang pasti, ia tidak
segan-segan membunuh, mengkhianati, dan memanipulasi orang lain untuk meraihnya.
Perilaku semacam ini adalah indikasi dari antisocial personality disorder. Gangguan
kejiwaan ini membuat Baelish kurang peduli dengan orang lain. Dia memandang orang
di sekitarnya sebagai alat yang dapat digunakan dan dibuang kapan saja, seperti
yang dialami oleh Lysa Tully.
Di mana Baelish memanfaatkan Lysa untuk membunuh suaminya,
agar Ned Stark naik menjadi Hand of The King.
Setelah berhasil menjebak Ned, ia lalu menikahi Lysa, yang kemudian ia bunuh dengan
menjatuhkannya ke Moon Door.
10. Daenerys Targaryen
Diagnosis: Justice dan Courage
Masa lalu yang suram juga dimiliki sang ibu para naga. Sejak
kecil, ia sudah yatim piatu. Keluarganya yang tersisa hanyalah kakaknya yang
kejam, Viserys. Ini membuat dirinya tumbuh menjadi sosok yang lemah dan pemalu.
Bahkan ia hanya bisa pasrah ketika Khal Drogo menikahinya. Setelah
pernikahan tersebut berakhir, perkembangan karakter ini langsung melesat. Daenerys,
yang dulunya lemah, kini berubah menjadi sosok yang kuat dan pemberani.
Jonathan Fader, Ph.D., seorang psikolog dan asisten profesor
di Albert Einstein College of Medicine,
menuliskan analisa menarik mengenai sosok Daenerys Targaryan di Psychology Today. Menurutnya kondisi
kejiwaan Daenerys adalah yang paling sulit dianalisa.
Alasannya karena kondisi jiwanya paling stabil, jika
dibandingkan dengan karakter Game of
Thrones yang lain. Untuk menganalisa tokoh ini, Fander menggunakan panduan tersendiri
yang dimuat di Character Strengths and
Virtues Handbook.
Dari sana, ia berhasil mendiagnosis Daenerys memiliki Justice dan Courage. Justice adalah
sifat-sifat positif yang meliputi kepemimpinan dan keadilan. Sedangkan Courage
terdiri atas ketekukan, kejujuran, keberanian.
****
Analisis psikologi di atas bisa saja meleset. Mengingat
pikiran manusia begitu rumit. Apalagi diagnosis didasarkan pada sejumlah fakta
yang muncul dalam film. Tanpa ada proses wawancara untuk mendalami kejiwaaan
mereka.
Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar sains atau artikel lain dari raSains.
Credit foto sampul: raSains











1 komentar:
Write komentarartikelnya bagus !!
ReplyEmoticonEmoticon