raSains.com – Junk food, dalam bahasa Indonesia
disebut ‘makanan sampah’, mudah ditemukan di mana-mana. Dari restoran franchise Barat, hingga pedagang
kaki lima. Banyak orang yang mengira jika junk
food adalah fast food atau
makanan cepat saji.
Padahal fast food hanya
bagian kecil dari junk food. Junk food sendiri
melingkupi banyak makanan dan minuman, seperti es krim, minuman ringan,
gorengan, dan snack. Di mana jenis
makanan ini mengandung kalori yang tinggi yang berasal dari gula dan lemak.
Beda fast food dan junk food
Istilah junk food sendiri
dapat dilacak hingga awal tahun 50'an. Istilah ini muncul dalam artikel berjudul
Fish, 'Junk Foods' Cause Serious
Malnutrition pada koran Lima yang merupakan pemuatan ulang dari artikel
bertajuk Dr. Brady’s Health Column: More
Junk Than Food yang dipublikasikan pada tahun 1948.
Dalam artikel tersebut, Dr. Brady menuliskan kategori
makanan yang termasuk ke dalam junk food,
yakni yang berbahan utama tepung dan gula atau sirup. Contohnya es krim, soft drink, cokelat, kue, dan lain
sebagainya. Namun penggunaan istilah junk
food secara resmi baru digunakan oleh Michel F. Jacobson, direktur Center for Science in the Public Interest,
pada tahun 1972.
Seiring maraknya restoran cepat saji, istilah junk food didentikan dengan fast food. Padahal keduanya adalah hal
yang berlainan.
Menurut Andrew F. Smith dalam bukunya yang berjudul Encyclopedia of Junk Food and Fast Food,
junk food dapat didefinisikan sebagai
produk komersil, baik yang memiliki nutrisi atau tidak, yang mengandung banyak
kalori, garam, dan lemak.
Misalnya saja produk burger yang ditawarkan restoran siap
saji. Setidaknya dalam satu sepotong burger, terkandung sejumlah nutrisi seperti
protein, kalsium, hingga vitamin A dan C.
Sayangnya jumlah kandungan nutrisi tersebut kalah jauh dengan lemak dan kalori di dalamnya. Di mana jumlahnya bisa mencapai separuh dari kandungan 'gizi' burger. Meski begitu, tidak semua makanan cepat saji dapat digolongkan sebagai junk food.
Sayangnya jumlah kandungan nutrisi tersebut kalah jauh dengan lemak dan kalori di dalamnya. Di mana jumlahnya bisa mencapai separuh dari kandungan 'gizi' burger. Meski begitu, tidak semua makanan cepat saji dapat digolongkan sebagai junk food.
“Tidak semua fast food adalah junk food, meski kebanyakan makanan ini termasuk ke dalamnya,” tulisnya.
Menurut Andrew, makanan cepat saji adalah jenis makanan yang
memiliki kecepatan penyajian yang tinggi dibandingkan makanan biasa. Di mana
beberapa di antaranya memiliki kandungan nutrisi dan serat yang cukup tinggi, misalnya
salad.
Walau begitu, rata-rata makanan cepat saji bisa dimasukan ke
dalam junk food karena kandungan gula
dan kalorinya yang begitu tinggi, seperti minuman soda, ayam goreng, hingga french fries. Jika dikonsumsi
dalam jumlah besar setiap harinya, makanan ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, misalnya
obesitas.
Menariknya, meski bahaya kesehatan mengintai banyak orang
yang gemar mengonsumsi fast food. Di
Amerika sendiri, setidaknya sepertiga anak-anak dan remaja di sana mengonsumsi fast food setiap hari.
“34 persen anak-anak dan remaja, berusia 9 sampai 19 tahun,
pada hari-hari tertentu mengonsumsi fast
food,“ kata Cheryl Fryar, anggota CDC's National Center for Health
Statistics, seperti dikutip dari NPR.
Tingginya konsumsi junk
food membuat penduduk Amerika dilanda wabah obesitas. Di mana pada tahun
2016 lalu, jumlahnya mencapai rekor baru, yakni 40 persen
perempuan dan remaja di negara adidaya tersebut. Dari jumlah itu, 17 persennya adalah remaja.
Dengan jumlah yang gila-gilaan ini, The Trust for America's Health memprediksi penderita obesitas di
negera Paman Sam bakal mencapai 44 persen pada tahun 2030. Sedangkan Centers for Disease Control and Prevention
memperkirakan jumlahnya mencapai 42 persen dewasa.
Tidak mengherankan jika sejumlah negara begitu cemas akan masalah kesehatan akibat junk food ini. Sejumlah aturan khusus untuk mengurangi konsumsi makanan tidak sehat ini mulai diterapkan.
Misalnya mengenakan pajak khusus seperti yang dilakukan
Denmark atau membatasi iklan junk food yang
diadopsi Inggris. Namun tetap saja godaan junk
food tidak mampu terbendung.
Di balik lezatnya junk food
![]() |
| Sumber gambar: Pexels |
Tidak ada satu orangpun yang meragukan kelezatan junk food. Rasanya memang tiada duanya. Namun kamu tidak perlu heran, karena produk makanan semacam ini memang didesain khusus agar penikmatnya selalu ingin lagi dan lagi.
Tentunya hal ini membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya
dalam satu tahun, industri makanan bisa menghabiskan jutaan dolar untuk
menemukan kombinasi rasa paling ‘nikmat’.
Michael Moss dalam bukunya yang berjudul Salt Sugar Fat: How the Food Giants Hooked
Us menuliskan rahasia di balik kenikmatan junk food, yakni berasal dari apa yang ia sebut sebagai ‘the bliss
point’ atau ‘titik kebahagiaan’.
‘The bliss point’ merupakan
keseimbangan rasa yang sangat spesifik, tidak terlalu banyak, tidak pula
terlalu sedikit. Sangat seimbang hingga otak kamu ingin meminta merasakan rasa junk food berulang kali.
Aromanya juga perlu dijaga, jangan sampai terlalu kuat
hingga tidak menciptakan ‘rasa sensorik yang khas’. Dengan begitu rasa bosan
dan puas tidak akan terbesit di benak setiap orang, sehingga kamu akan meminta junk food terus menerus. Tidak peduli
sebanyak apapun yang kamu makan.
Rahasia kenikmatan junk
food tidak berhenti sampai di sini. Selain ‘titik kebahagiaan’, industri
makanan juga memanfaatkan apa yang disebut dengan ‘vanishing caloric density’. Secara sederhana, ‘vanishing caloric density’ memanfaatkan kelemahan otak dalam
menentukan jumlah kalori dalam makanan berdasarkan mouthfeel (sensasi yang diciptakan makanan dan minuman)
Dengan membuat makanan ‘lumer’ di mulut, otak kamu akan
tertipu dengan jumlah kalori dalam makanan yang tengah kamu santap. Steven Witherly, ilmuwan
makanan dan penulis buku Why Humans Like
Junk Food, mengatakan Cheetos
adalah makanan yang didesain paling menakjubkan di muka Bumi, khususnya dalam
kenikmatan rasanya.
Pasalnya Cheetos mampu menghadirkan sensasi meleleh di mulut
alih-alih ‘ledakan rasa’. Sensasi meleleh ini membuat otakmu berpikir jika kamu
sedang tidak makan apa-apa. Karena itulah kamu bisa menghabiskan satu bungkus
Cheetos tanpa sadar.
Membedah mitos kecanduan junk food
![]() |
| Credit: Andy |
Alasan kecanduan junk
food kerap diungkapkan oleh penderita obesitas. Ibarat narkoba, jika belum
dikonsumsi pikiran tidak bisa tenang. Alasan ini pula yang melatarbelakangi
sekelompok psikiatris Amerika melakukan penelitian untuk menguji mitos kecanduan
junk food. Apakah benar ada atau
tidak.
Para peneliti menggunakan sejumlah tikus yang dibagi menjadi
tiga kelompok. Kelompok pertama hanya diberikan makanan tikus biasa, kelompok lainnya
diberikan junk food setiap jam
sehari, sedangkan kelompok terakhir diberikan junk food terus menerus tanpa batasan waktu.
Hasilnya sangat mengejutkan! Berdasarkan laporan yang dimuat
di jurnal Nature Neuroscience, para
tikus yang mengonsumsi junk food mengalami
perubahan berat badan dan pola makan. Di mana mereka menolak makanan sehat dan
lebih memilih junk food.
Padahal acap kali para tikus memakan junk food, para peneliti memberikan terapi kejut. Namun hal ini
tidak berguna. Karena para tikus masih tetap mengonsumsi junk food meski harus menderita kena setrum terlebih dahulu.
Tidak hanya itu, ketika para peneliti menghilangkan pilihan
makanan junk food dan hanya
menyisakan makanan sehat, para tikus tersebut memilih untuk kelaparan selama
dua minggu.
“Kami menemukan tanda-tanda toleransi, penarikan, keinginan dan perubahan terukur pada saraf seperti pelepasan dopamin dan opioid ,” ungkap Nicole Avena, salah
satu peneliti seperti dikutip dari Guardian.
Meski begitu, penelitian mengenai kecanduan junk
food ini juga mendapatkan kritik dari sejumlah ilmuwan. Salah satunya
datang dari Paul Fletcher, profesor neurosains dari Cambridge University.
Menurutnya terlalu dini untuk menyimpulkan adanya kecanduan junk food. Ia juga menanyakan perihal hasil riset ‘tikus kecanduan junk food’. Apakah yang membuat kecanduan itu gula, lemak, atau rasanya yang enak? Selain itu, level
Menurutnya terlalu dini untuk menyimpulkan adanya kecanduan junk food. Ia juga menanyakan perihal hasil riset ‘tikus kecanduan junk food’. Apakah yang membuat kecanduan itu gula, lemak, atau rasanya yang enak? Selain itu, level
“Kami menemukan istilah kecanduan terlalu mudah digunakan
untuk perilaku manusia saat ini: ketagihan berjemur? ketagihan Facebook?” kata
Fletcher, seperti dikutip dari Live Science.
“Apakah konsep kecanduan makanan terdengar begitu nyata? Apakah
gula membuat kamu berkeringat dan gemetar? Jenis makanan apa yang tidak bisa
kamu tahan?” katanya.
Kaburnya soal konsep kecanduan makanan juga diamini oleh Gabriel
Harris, asisten profesor di bidang ilmu makanan di North Carolina State University. Menurutnya ilmuwan bisa saja menciptakan
cita rasa khusus, namun belum ada bukti klinis yang menunjukan korelasi rasa
enak dengan kecanduan.
“Itu adalah sesuatu yang belum kita ketahui secara pasti,”
kata Harris. “Kami masih mengumpulkan sejumlah bukti atas hal tersebut.”
Ia juga menambahkan jika anggapan fast food tidak sehat hanyalah mitos. Karena sejumlah restoran
cepat saji juga menawarkan fast food yang
sehat, seperti salad.
“Tidak ada makanan yang buruk, yang ada hanya pola makan
yang tidak sehat,” katanya. “Mengonsumsi makanan apapun sebetulnya tidak
masalah asal porsinya seimbang dan tidak setiap saat.”
Sumber gambar: Pexels
Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar makanan dan minuman, dan ragam atau artikel lain dari raSains.
Sumber gambar: Pexels




EmoticonEmoticon