raSains.com - Data atau dokumen kamu ketinggalan? Padahal sebentar lagi
kamu harus ketemu klien penting? Tenang, jangan panik, kamu tinggal
mengunduhnya saja dari cloud storage atau
penyimpanan awan. Tentu jika datamu sudah kamu backup.
Teknologi penyimpanan digital ini memang sangat membantu. Berkatnya,
kamu bisa mengakses data dan dokumen yang disimpan kapan saja dan dimana saja.
Tak kenal tempat dan waktu.
Namun tahukah kamu apa itu cloud storage sebenarnya? Apa bedanya dengan cloud computing? Dan bagaimana cara kerja teknologi ini?
Cloud storage vs cloud computing: apa bedanya?
Cloud storage dan cloud computing. Kedua isitilah ini
hampir sama. Kadang banyak orang yang terkecoh, berpikir jika pengertian
keduanya sama. Memang keduanya memiliki banyak persamaan, namun cara kerjanya
berbeda.
Secara
sederhana, cloud storage adalah
layanan yang menyimpan, mengatur, dan memelihara data yang diakses melalui
jaringan internet. Jadi cara kerja cloud storage tidak bisa dilepaskan dari penyimpanan data.
![]() |
| Credit: Berkeley Lab |
Untuk melakukan hal ini, dibutuhkan minimal satu data server
yang terhubung dengan internet. Pengguna akan mengirimkan salinan file miliknya ke data server tersebut. Saat
pengguna butuh, kamu tinggal mengunduhnya kembali.
Bagaimana kalau data server mengalami gangguan atau sedang maintenance? Apakah ini bisa membuat cloud storage tidak bisa diakses?
Jawabannya ya.
Untungnya, setiap penyedia layanan cloud memiliki ribuan server. Di mana data milik pengguna akan disalin
dan disimpan di data server lain. Dengan begitu, meski ada server yang error,
kamu tetap bisa mengakses data. Sistem backup
data pengguna semacam ini dikenal dengan istilah redundancy.
Contoh cloud storage yang
sering kamu gunakan yaitu Google Drive, Dropbox, dan situs berbagi semacam
Kumpulbagi.
Sedangkan cloud computing berfokus pada penyelesaian tugas. Di mana data harus dipindahkan ke cloud storage terlebih dahulu, sebelum bisa
menggunakan cloud computing. Setelah
data dipindah, kamu atau orang lain dapat mengolahnya menjadi material dan
mengirimkannya kembali kepada pengguna.
Contoh implementasi cloud
computing yaitu Software as a Service (SaaS). SaaS dapat kamu
temukan di sebagian besar aplikasi smartphone
maupun media sosial.
Cikal bakal cloud storage
![]() |
| Credit: Atos |
Sejarah cloud storage dimulai
pada tahun 1960. Ketika Joseph Carl Robnett Licklider mengembangkan ARPANET, proyek
ambisius untuk menghubungkan seluruh data dan orang dari penjuru dunia. Proyek
ini sukses dan kini dikenal sebagai internet.
23 tahun kemudian, CompuServe menawarkan apa yang bisa kita
sebut sebagai prototipe cloud storage. Di
mana perusahaan ini menyewakan media penyimpanan yang dapat digunakan oleh
konsumen untuk mengunggah file.
Layanan ini akhirnya dikembangkan oleh AT&T dengan
meluncurkan PersonaLink Services, layanan penyimpanan data online yang mengadopsi web
based pertama. Langkah ini akhirnya diikuti oleh Amazon pada tahun 2000 dengan mengenalkan AWS S3.
Di mana sistem AWS S3 diadopsi oleh sejumlah penyedia
layanan cloud storage terkenal
seperti Dropbox dan Pinterest. Dari sini, layanan cloud storage mulai berkembang pesat hingga digunakan banyak orang.
Kepopulerannya telah diramalkan
![]() |
| Credit: Chase Elliot Clark |
Meski teknologi penyimpanan data online belum lama populer, namun popularitas cloud storage telah diramalkan sejak tahun 1960. Sang ‘peramal’
adalah John MacCarthy, seorang ahli komputer sekaligus peletak dasar AI (artificial intelligence).
Ia mengatakan utility
computing bakal populer di masa depan. Utility
computing adalah cikal bakal model layanan cloud storage. Di mana penyedia layanan membuat sumber daya
komputasi beserta manajemennya dan pengguna cukup membayar apa yang ia pakai.
Konsepnya mirip dengan tagihan listrik dan air. Makin banyak
kamu pakai, makin mahal biaya yang harus kamu bayar.
Gagasan MacCarthy ini sempat booming dan jadi pembicaraan banyak orang. Sayangnya gagasan ini
tenggelam di tahun 90’an. Baru satu dekade kemudian, gagasannya menjadi
kenyataan.
Manfaat cloud storage
![]() |
| Credit: NEC Corporation of America |
Pengembangan sebuah teknologi tidak bisa dilepaskan dari manfaat yang bisa didapatkan, tak terkecuali cloud storage. Media penyimpanan digital ini setidaknya memiliki
empat manfaat yang tidak dimiliki offline
storage. Apa sajakah itu?
- Teknologi yang murah meriah
Murah adalah manfaat utama teknologi ini, dan yang paling
menonjol. Pasalnya kamu hanya perlu membayar sebanyak yang kamu gunakan. Ditambah
lagi, biaya perawatan dan pembelian perangkat keras menjadi tanggung jawab penyedia
layanan.
Jika kapasitas penyimpananmu kurang atau habis, kamu tinggal
upgrade akun saja. Di mana harganya
jauh lebih terjangkau dibanding harus membeli hard disk baru.
Manfaat cloud
storage ini diamini oleh Jeff Kear, founder
Planning Pod. Menurutnya dengan adanya cloud,
ia tidak perlu lagi mempekerjakan teknisi IT untuk melakukan perawatan
server.
- Hemat energi
Dampak penggunaan satu data server untuk banyak orang,
membuat penggunaan energi dapat terpangkas. Seperti yang dilaporkan para
peneliti dalam Scientific America, penggunaan cloud dapat memangkas energi hingga 87 persen.
Jika perusahaan yang ada di Los Angeles memanfaatkan cloud, maka energi yang dapat dihemat mencapai 23 miliar kilowatt per tahun. Jumlah yang sangat besar bukan?
- Data dapat diakses kapanpun dan dimanapun.
Cloud storage merupakan
solusi bagi kamu yang memiliki mobilitas tinggi namun malas membawa media
penyimpanan fisik kemana-mana. Cukup unggah data penting ke cloud, dan kamu bisa mengaksesnya kapan
saja dan dimana saja.
Kemudahan mobilitas ini tentu sangat bermanfaat bagi para
profesional. Misalnya seperti yang diungkapkan Robbyn Tippins, co-founder Mariposa.
“Kami menggunakan layanan cloud untuk memastikan setiap anggota tim selalu update dengan data, proporsal klien,
meski terpisah secara geografis,” katanya.
- Menopang produktivas
Kehadiran teknologi cloud
storage membuat cara kerja profesional turut berubah. Seperti yang
dikatakan X. Kevin Liao, founder
Illustria Designs. Menurutnya penyimpanan digital online memudahkan dirinya mendapatkan feedback dari klien.
“Ini membuat klien seakan terlibat dalam pembuatan proyek,
karena mereka dapat memberikan masukan langsung,” ungkap Liao.
Perubahan cara kerja ini juga mengerek naik produktivitas.
Hal ini diakui oleh Matthew Vollmar, CEO
Newmind Group. Ia mengatakan keberadaan cloud
storage membuat para staffnya tidak lagi terikat tempat dan waktu. Asalkan
ada jaringan internet, mereka sudah dapat bekerja.
Ancaman yang mengintai cloud storage
![]() |
| Credit: elhombredenegro |
Di balik sejumlah manfaat yang dimilikinya, cloud storage juga menyimpan ancaman. Beberapa
di antaranya tidak bisa dianggap enteng, bahkan dapat membahayakan pemanfaatan
teknologi ini.
- Data yang tersimpan tidak seratus persen aman
Peretasan adalah momok yang harus dihadapi penyedia layanan cloud dan penggunanya. Meski setiap
layanan telah dilengkapi dengan dukungan keamanan yang memadai, namun bukan
berarti tidak dapat ditembus.
Ada banyak kasus layanan cloud
storage yang berhasil diretas. Kasus terbesar yang paling diingat yaitu
bobolnya iCloud. Kamu pasti masih
ingat bagaimana layanan cloud storage milik
Apple ini diretas pada 2014. Akibatnya, sejumlah foto-foto pribadi milik
selebriti internasional bocor ke publik.
- Privasi yang rentan bocor
Jarang sekali ada orang yang membaca syarat dan ketentuan
pengguna sebuah layanan. Kebanyakan akan langsung menyetujuinya. Padahal tindakan
ini berbahaya bagi keamanan informasi kamu.
Pasalnya beberapa penyedia layanan akan ‘membagikan’ data
kamu kepada perusahaan ketiga, misalnya pengiklan. Ketentuan semacam ini seringkali
tercantum di ketentuan layanan mereka. Meski kadang juga ada penyedia layanan
yang nakal yang sengaja tidak mencantumkannya.
- Penyalahgunaan cloud
Makin tingginya penggunaan cloud bakal memicu penyalahgunaan layanan ini. Bisa dilakukan
pemilik layanan maupun pengguna. Di mana mereka dapat menyimpan virus ataupun malware yang dapat mengambil alih
layanan ataupun membobolnya.
- Masalah hak cipta
Keberadaan cloud
storage memudahkan penyebaran kontek berhak cipta tanpa ijin. Bagi sebagian
orang ini adalah berkah. Karena mereka tidak perlu merogoh koceknya dalam-dalam
untuk membeli konten tersebut.
Namun bagi pemilik hak cipta, tindakan ini adalah musibah. Karena mereka tidak mendapatkan keuntungan apapun dari tindakan pembajakan. Ada banyak kasus gugatan yang dilayangkan oleh pemilik hak cipta kepada penyedia layanan cloud.
Misalnya kasus situs berbagi e-book CodexCloud yang mendapatkan gugatan dari salah satu pemilik
hak cipta buku. Karena menyebarkan e-book
miliknya tanpa ijin.
Video penjelasan mengenai cloud storage
Bagi yang internetnya lancar, kamu bisa menonton video dari Techquickie berikut. Video di bawah ini akan mengulas mengenai pengertian hingga cara kerja cloud dalam waktu kurang dari lima menit.
Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar teknologi dan artikel lain dari raSains.
Sumber gambar sampul: David Santaolalla






2 komentar
Write komentarNice Info gan sangat bermanfaat
Replysaya Jd lebih paham tentang cloud storage, artikel yg sangat bermanfaat
ReplyEmoticonEmoticon