raSains.com - Kecanduan game bukan
istilah asing di telinga kamu. Istilah ini kerap digunakan untuk merujuk orang
yang bermain video game secara
berlebihan. Lupa makan, sekolah, dan aktivitas lain di dunia nyata. Lupa semuanya.
Karena itu banyak yang menganggap kecanduan game adalah bentuk gangguan jiwa,
layaknya kecanduan narkoba. Padahal sampai saat ini konsep kecanduan game sendiri masih jadi perdebatan
bannyak pihak. Apakah kecanduan game itu
memang ada atau hanya rekaan kita?
Apakah kecanduan game itu nyata?
Apa itu kecanduan? Dikutip dari Wikipedia, kecanduan adalah kelainan otak yang ditandai dengan
perilaku ayng berulang untuk mendapatkan rangsangan yang memuaskan, meski ada
konsekuensi negatif yang bakal didapatkan.
Kecanduan sendiri bukan hal yang baru dalam dunia medis. Ada
banyak jenis kecanduan yang telah ‘diakui’ dan diteliti selama bertahun-tahun,
misalnya kecanduan narkoba. Kecanduan ‘jenis’ ini lebih mudah dijelaskan
dibanding kecanduan yang berkaitan dengan perilaku.
Dalam kecanduan yang berkaitan dengan perilaku, diagnosis
ditentukan dari terpenuhinya sejumlah kriteria. Misalnya dalam kasus kecanduan
judi, seseorang harus memiliki gejala berupa perasaan resah ketika tidak
berjudi, perasaan gembira ketika bermain judi, hinga menjadikan judi sebagai
ajang pelarian dari masalah.
Ketika kriteria tersebut dipenuhi, maka seseorang dapat
dikategorikan sebagai pecandu judi. Hal ini juga berlaku dengan kecanduan game. Dalam DSM-V yang disusun American Psychiatric Association, terdapat
sembilan kriteria seseorang terkena Internet
Gaming Disorder (IGD) yaitu:
- Keasyikan bermain game hingga aktivitas ini menjadi yang paling dominan.
- Muncul perasaan cemas atau sedih ketika tidak bermain game.
- Harus meluangkan waktu untuk bermain game.
- Tidak bisa mengontrol waktu bermain game.
- Kehilangan minat pada hobi lain.
- Terus bermain game meski menimbulkan masalah.
- Membohongi keluarga mengenai lamanya waktu yang dihabiskan untuk bermain game.
- Dijadikan ajang pelarian dari emosi negatif.
- Timbulnya masalah hubungan yang disebabkan game.
Seseorang didiagnosis kecanduan game ketika mereka memenuhi empat atau lima kriteria di atas dalam
kurun waktu dua belas bulan. Namun seberapa valid kriteria di atas?
Untuk menguji hal tersebut, Netta Weinstein dari Cardiff
University, Inggris, bersama rekan-rekannya melakukan survey yang melibatkan gamer
berusia 18 tahun di Amerika Serikat. Sebanyak 2316 sampel diberi pertanyaan
seputar kesehatan, aktivitas, dan gaya hidup mereka.
Hasilnya cukup menarik. Di awal studi terdapat sembilan
partisipan yang memenuhi kriteria tersebut dan mengalami masalah akibat bermain
video game. Sayangnya enam bulan kemudian,
hal tersebut tidak lagi ditemui pada partisipan.
Sementara itu, terdapat juga tiga orang yang memiliki
kriteria tersebut dari awal hingga akhir studi. Namun mereka tidak mengalami
masalah akibat kebiasaan bermain game. “Hasil
penelitian menunjukan bahwa kurang begitu jelas bagaimana berbagai sumber
mengatur kecanduan game, dibandingkan
dengan kecanduan lain seperti narkoba,” kata Weinstein, seperti dikutip dari Newscientist.
Weinstein juga menambahan jika bermain game lebih menjadi
aktivitas pengganti bagi orang-orang yang merasa kurang bahagia. “Ini adalah
bukti bahwa pemenuhan kebutuhan yang lebih banyak dalam hidup dapat membuat
orang merasa lebih baik mengenai game mereka,” tuturnya.
WHO dan perdebatan mengenai kecanduan game
![]() |
| Sumber gambar: Pexels |
Meski kecanduan game masih jadi perdebatan banyak orang,
namun World Health Organization (WHO)
telah memutuskan untuk memasukannya ke dalam International Classification of Diseases (ICD) edisi kesebelas. ICD
adalah buku panduan bagi dokter dan rumah sakit di seluruh dunia untuk membantu
diagnosa penyakit. Buku ini juga dijadikan rujukan perusahaan asuransi untuk membayar
klaim biaya rumah sakit.
Jika tidak ada aral rintangan, ICD kesebelas akan dirilis
pada ahir tahun 2018 ini. Dalam draft yang tersebar di internet, WHO
mendefinisikan kecanduan game sebagai pola perilaku berulang yang mengambil kehidupan
seseorang hingga mereka tidak memikirkan hal lainnya walaupun ada konsekuensi
sosial yang negatif. Pola ini tidak harus terjadi selama 12 bulan. Tergantung
dari tingkat keparahannya.
"Pola perilaku dengan tingkat keparahan yang cukup untuk
menghasilkan gangguan signifikan pada area fungsi pribadi, keluarga, sosial,
pendidikan, pekerjaan atau area penting lainnya," bunyi draft WHO tersebut,
seperti dikutip dari Mashable.
Kode yang ditawarkan untuk menyebut pola perilaku ini yaitu ‘game addiction’ dan ‘hazardous gaming’. Di mana keduanya
telah mencakup game online maupun offline. Sayangnya rencana WHO ini
menuai kritik dari banyak pihak.
“Itu adalah keputusan yang buruk (yang dilakukan WHO),” kata
Chris Ferguson, profesor psikologi di Stetson University, Florida, seperti
dikutip dari Gizmodo. Ferguson yang
telah mempelajari efek video game
pada masyarakat juga menyatakan masih belum menemukan bukti real kenapa
kecanduan game layak menjadi penyakit
mental.
“Tidak diragukan lagi jika beberapa orang ‘overdosis’ bermain
game seperti berlebihan makan, kerja,
seks, dan lain sebagainya, tapi tidak ada alasan yang rasional untuk diagnosis
kecanduan game,” kata Ferguson.
Ferguson memandang kecanduan game sebagai gejala kesehatan mental mendasar lainnya. “Game sering
kali digunakan sebagai mekanisme untuk menggulangi masalah,” ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh Espen Aarseth, profesor studi
game di IT University, Copenhagen,
Denmark. Menurutnya banyak peneliti yang melihat kecanduan game seperti kecanduan narkoba. Di mana hal ini tercermin dari susunan
pertanyaan dalam kuisioner survey.
“Pertanyaan ini tidak sesuai untuk mengungkap kecanduan yang
berkaitan dengan rekreasi, budaya, dan sosial murni,” katanya. Pasalnya pada
titik tertentu semua orang pernah bermain game.
Sementara tidak semua orang pernah mencoba heroin.
Kritik seputar model survey yang dilakukan juga datang dari Andrew
Przybylski, seorang psikolog eksperimental di Oxford Univeristy. Ia menyoroti
pengumpulan data kecanduan game yang
mayoritas diambil dari survey online ataupun
dari forum Reddit.
Ditambah lagi belum ada konsensus yang jelas mengenai
diagnosis kecanduan game. Akibatnya setiap peneliti menggunakan kriteria yang
berbeda-beda sehingga ukuran kecanduan menjadi sangat bervariasi, berkisar dari
0,5 persen hingga 40 persen.
Ketidakjelasan ini membuat erguson, Aarseth, dan Przybylski
berada di antara 26 peneliti untuk mengirim surat terbuka kepada WHO pada 2016
silam, tepat setelah draft kecanduan game
di ICD-11 muncul.
Di sisi lain, terdapat pula sejumlah ilmuwan yang mendukung
keputusan WHO ini. Misalnya saja Mark Griffiths, seorang peneliti di
International Gaming Research Unit dan Profesor Studi Perjudian di Nottingham
Trent University Inggris, yang merupakan salah satu orang pertama yang
mempelajari kecanduan game pada 1990-an.
"Saya menerbitkan lebih banyak makalah tentang
kecanduan video game dibanding orang lain di dunia ini jadi saya berada di
balik keputusan ini karena memvalidasi penelitian tiga dekade saya di bidang
ini,” kata Griffiths. "Sejauh yang saya tahu ada lebih dari cukup bukti
bahwa itu ada," tambahnya.
![]() |
| Sumber gambar: Pexels |
Walau begitu, dirinya sepakat mengenai kebutuhan akan
diagnosis kecanduan game yang baku. Pasalnya
seiring kemunculan klinik terapi kecanduan game,
keberadaan diagnosis yang konkret yang
digunakan oleh dokter sangatlah penting.
Meski keputusan WHO masih jadi perdebatan, tapi pihak pro
dan kontra sepakat bahwa kecanduan game tidak
dipandang lebih dari sekedar fenomena yang terjadi pada sebagian kecil gamer.
Poznyak menyamakan hal ini dengan yang fenomena yang terjadi
pada perjudian, alkohol, tembakau, dan lain sebagainya. Menurutnya tidak semua
orang yang minum alkohol ataupun membeli lotere memiliki gangguan.
“Kita tidak akan patologikan perilaku normal, "kata
Poznyak dari WHO. "Kita berbicara tentang kondisi yang sangat spesifik,
dengan kriteria khusus. Dan hanya pada proporsi yang sangat kecil - mungkin
tidak lebih dari satu persen dari beberapa populasi - yang memenuhi
syarat," tambahnya.
Sayangnya kontroversi kecanduan game WHO tidak berhenti sampai di sini. Pasalnya keputusan tidak
murni didasari oleh sain, tapi juga kepentingan politik sejumlah negara
berdasarkan pengakuan Ferguson.
Dirinya mengajukan bukti berupa diskusi e-mail mengenai
petunjuk teknis pada proporsal ICD-11 dengan Vladimir Poznyak. Dalam salah satu
e-mail, Poznyak menggambarkan adanya ‘permintaan’ dari pemangku kepentingan.
E-mail serupa juga dikirim ke Ferguson oleh pejabat WHO
mengenai adanya "tekanan besar, terutama dari negara-negara Asia, untuk
memasukkan kecanduan game."
Sayangnya Poznyak membantah tuduhan ini.
"Saya dapat memberitahu kamu, dan ini harus dianggap
sebagai pernyataan, bahwa tidak ada tekanan formal atau komunikasi formal dari
negara anggota WHO mengenai dimasukkannya kecanduan game ke ICD-11," ujar Poznyak.
Menurutnya apa yang sebenarnya terjadi ialah adanya kekhawatiran
di sejumlah negara yang diungkapkan oleh petugas medis mengenai orang-orang
yang menderita kecanduan game beserta
implikasinya dalam kehidupan sehari-hari.
"[Tekanan formal] tidak terjadi. Itu tidak
terjadi," tegasnya kembali.
Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar kesehatan atau artikel lain dari raSains.
Sumber gambar sampul: Pexels














