raSains.com - Umur matahari sudah sepuluh miliar tahun lebih. Setidaknya
bintang ini masih bisa bertahan lima sampai tujuh miliar tahun lagi. Setelah
itu, matahari akan kehabisan hidrogen lalu padam.
Ketika matahari mati, apa yang akan terjadi dengan Tata
Surya kita? Bagaimana dengan nasib Bumi, dan planet-planet lainnya? Pernahkah kamu memikirkan hal ini?
Ketika matahari padam, setidaknya bakal terjadi sembilan peristiwa dahsyat. Di antaranya yaitu kepunahan umat manusia di Bumi!
1. Efek rumah kaca makin menggila
![]() |
| Credit: Beth Scupham |
Efek rumah kaca adalah biang keladi pemanasan global. Di
mana radiasi inframerah matahari yang seharusnya dipantulkan ke luar Bumi
tertahan di awan, dan dikembalikan ke permukaan planet ini. Akibatnya, terjadi
peningkatan suhu 1-5 Celcius.
Ketika matahari akan padam, efek rumah kaca yang mendera
Bumi akan naik tajam. Penyebabnya adalah pancaran sinar matahari yang sangat
terang. Berkali-kali lipat lebih terang dibanding saat ini.
Efeknya, kandungan metana, karbon dioksida, dan nitrat tidak
bisa lagi membendung ‘teriknya’ sinar matahari. Suhu di Bumi pun meningkat
sangat drastis.
Saking panasnya, sebagian besar air di permukaan Bumi bakal menguap
ke atmosfer, menciptakan awan raksasa yang menyelubungi seluruh planet ini. Sedangkan
sisanya, yang berupa air laut, akan mendidih dan membunuh semua makhluk hidup
yang tinggal di dalamnya.
2. Matahari akan membesar ratusan kali lipat
![]() |
| Credit: NASA |
Peningkatan kecerahan matahari juga diikuti dengan perubahan
ukuran bintang ini, menjadi seratus kali lipat. Fase ini disebut sebagai Red Giant atau Raksasa Merah. Raksasa Merah merupakan fase kedua kematian bintang.
Fase ini terjadi ketika sebuah bintang telah kehabisan
hidrogen, dan mulai memasuki tahap fusi hidrogen termonuklir di selubung
intinya. Uniknya, meski ukuran matahari lebih besar pada fase ini, namun
suhunya jauh lebih rendah.
Diperkirakan suhunya berkisar antara 3.000 hingga
4.000 Celcius. Bandingkan dengan suhu permukaan matahari ‘normal’ yang bisa
mencapai 6.000 Celcius.
Yang harus kamu catat ialah tidak semua bintang akan
mengalami fase ini. Jika ukurannya lebih kecil, bintang akan menjadi Katai Merah alih-alih Raksasa Merah. Sedangkan jika ukurannya sangat besar, bintang
akan menghasilkan inti besi lalu meledak menjadi Supernova.
3. Matahari akan berubah ke bentuk akhir
![]() |
| Sumber gambar: Wikimedia |
Setelah fase raksasa merah usai, matahari akan memasuki
bentuk terakhirnya sebelum mati, yakni White Dwarf atau Katai Putih. Katai Putih adalah perubahan terakhir dari bintang
dengan massa kecil dan menengah, seperti matahari.
Pada fase ini, bintang tidak lagi melakukan fusi, sehingga
materi yang ada di sekitarnya tertarik oleh gravitasinya. Inilah kenapa matahari
pada fase ini menjadi sangat padat, meski massanya masih sama. Sedangkan volume
matahari sendiri ikut mengecil, menjadi seukuran Bumi.
Katai Putih akan bertahan hingga miliaran tahun. Setelah itu
barulah matahari benar-benar padam, dan berubah menjadi Black Dwarf atau Katai Hitam. Para astronom sendiri belum bisa memprediksi
kapan Katai Hitam akan muncul. Pasalnya umur alam semesta masih belum cukup tua
hingga munculnya Katai Hitam.
4. Orbit Bumi dan
planet lain bakal berubah
![]() |
| Credit: NASA Blueshift |
Pada fase raksasa merah, ukuran matahari bakal membesar. Jarak antara matahari dan Bumi juga kian ciut, hingga tersisa seperempatnya saja.
Di saat itu, kehidupan akan musnah di Bumi, namun tidak berarti planet ini hancur menjadi debu. Pasalnya gravitasi matahari akan mendorong Bumi dan planet lainnya menjauh. Sayangnya, tidak semua planet bakal 'selamat'.
Merkurius dan Venus yang letaknya paling dekat
dari matahari bakal ditelan raksasa merah. Pasalnya jarak kedua planet ini dengan matahari terlalu dekat.
5. Muncul kehidupan di luar Bumi
![]() |
| Credit: mcscrooge54 |
Kehidupan di Bumi boleh saja punah akibat teriknya sinar
matahari. Sebaliknya di luar sana bakal muncul sejumlah tempat yang bisa
mendukung keberadaan makhluk hidup, meski hanya berupa mikro organisme.
Dua satelit milik Jupiter, Ganymede dan Europa, adalah
lokasi yang paling sesuai untuk hadirnya kehidupan. Pasalnya kedua satelit
tersebut memiliki es dalam jumlah yang besar. Bahkan menurut sejumlah ilmuwan,
Europa diduga memiliki lautan di balik lapisan esnya.
Ketika sinar matahari meningkat berkali-kali lipat, es yang
ada di kedua satelit Jupiter tersebut bakal mencair. Di mana hal ini akan
menyokong munculnya kehidupan baru.
6. Planet terjauh dari sistem Tata Surya bakal mencicipi sinar matahari
![]() |
| Sumber gambar: Wikimedia |
Fase raksasa merah tidak hanya berdampak bagi Bumi saja,
namun juga planet-planet terluar Tata Surya. Pasalnya kecerahan matahari pada
fase ini mampu menjangkaunya. Misalnya saja planet Pluto yang letaknya paling
jauh dari pusat Tata Surya.
Planet kecil yang diselimuti es abadi ini bakal merasakan kehangatan
matahari untuk pertama dan terakhir kalinya. Di mana suhu planet ini bakal naik drastis yang bakal menyebabkan
mencairnya lapisan es.
Namun proses ini belum tentu mampu memicu kehidupan baru di
sini. Pasalnya harus ada sejumlah kondisi yang dipenuhi sebelum itu terjadi. Yang
jelas, planet ini bakal menjadi salah satu saksi bisu sinar matahari yang
terakhir kalinya, sebelum bintang ini mati sepenuhnya.
7. Tidak akan ada lagi kehidupan di Bumi
![]() |
| Sumber gambar: Pixabay |
Matinya matahari berarti kiamat bagi seluruh makhluk yang
ada di Bumi. Kepunahan ini dimulai sejak fase raksasa merah. Di mana pada fase
ini kecerahan matahari bakal memanggang semua yang ada di planet ini tanpa
terkecuali.
Seandainya manusia dapat mengembangkan teknologi anti panas,
mereka bakal dilanda bencana kelaparan akibat rusaknya rantai makanan. Apakah
bencana akibat kematian matahari hanya sampai di sini?
Seandainya manusia mampu bertahan, maka jutaan tahun
kemudian suhu Bumi akan turun dan permukaannya bakal membeku selamanya.
8. Saatnya manusia meninggalkan Bumi
![]() |
| Sumber gambar: Pexels |
Apakah umat manusia bisa selamat dari ‘kiamat’ yang
diakibatkan matinya matahari? Kemungkinan besar bisa. Kita memang tidak bisa
membayangkan kemajuan teknologi di masa depan, namun perjalanan ke luar angkasa
bukanlah hal yang mustahil.
Cikal bakalnya sudah bisa kita lihat hari ini, yaitu dengan proyek
koloni Mars yang digagas Elon Musk. Bahkan Uni Emirat Arab juga berambisi membangun sebuah kota di Mars pada 2117.
Oleh karena itu, tidak aneh jika jutaan tahun lagi
manusia bisa membuat koloni di luar angkasa atau bahkan meninggalkan Galaksi
Bima Sakti.
9. Perubahan di sabuk asteroid
![]() |
| Credit: Kristian Fagerstrom |
Sisanya, bakal terlempar ke arah matahari yang tengah sekarat. Para ilmuwan memprediksi jika asteroid-asteroid ini akan hancur menjadi debu, seperti yang terjadi pada Katai Putih di galaksi lain.
****
Suka dengan artikel di atas? Baca juga artikel menarik seputar antariksa dan alam semesta atau artikel lain dari raSains.
Sumber gambar sampul: Robert A.










EmoticonEmoticon